Halaman

Minggu, 03 Mei 2015

Semoga Sepak bola wanita Maju

Lupakan sejenak prahara POLRI vs KPK atau Menpora vs La Nyala yang makin membuat jengah. Minggu – minggu ini ada event sepak bola yang cukup menggelitik di hati saya. Event tersebut adalah piala AFF wanita. Di pertandingan pertama Srikandi – srikandi kita kalah  0-2 dari Timnas Wanita Kamboja. Usut punya usut ternyata secara peringkat FIFA Kamboja wanita itu ranking 90. Pertanyaan saya? “masak sama ranking 90 kalah?”. Ya terang aja wong Timnas Wanita Indonesia ternyata ranking juru kunci. Hahahaha
Prihatin? Ya pasti. Lantas? Saya buat saja tulisan ini kali aja dibaca orang.
Wanita dan sepakbola, wanita saat ini selalu dikenal sebaga pemanis/”tombo ngantuk” di tribune, tak jarang supporter2 wanita ini ujungnya bisa ngetop/jadi selebritis. Nah kini kita dihadapkan pada pertanyaan : apakah kita mau sepakbola wanita Indonesia maju dan berkembang? Namun pertanyaan balasannya adalah “apakah anda mau putri anda jadi pemain sepakbola?”.

Pertanyaan yang wajar untuk Negara ketimuran seperti kita. Namun apa itu sebagai penghalang untuk berprestasi? Sepertinya kok tidak? Lihat saja Timnas Wanita Iran? Mereka eksis habis. Atau tak perlu jauh – jauh sampai Iran. Di Negeri kita Proliga, Voli, begitu cetar membahana. Mereka bisa kenapa Sepak bola wanita tidak?
Memajukan olah raga yang sama sekali engga poluler itu harus melewati tahap. Menurut saya ada tahap Penyaringan dan Pemopuleran/Promosi. (Wasyeeek…)

        Penyaringan
Hal yang tidak bisa ditawar – tawar lagi adalah Buat system kompetisi tersistem : LIGA. Tak cukup hanya Kejurnas yang sifatnya musiman tapi yang dibutuhkan adalah Liga Sepakbola Wanita. Hal ini bisa jadi tantangan juga bagi Kemenpora yang sedang membekukan PSSI. Kira – kira Kemenpora sanggup tidak membuat dan mengelola Liga Sepak Bola Wanita? Jangan koar – koar wal anget2 T*I ayam kayak LPI beberapa tahun lalu. Bilangnya bikin liga tandingan tapi malah kacau balau. Dipegang orang yang tak memiliki kompetensi.

Liga yang menurut saya efektif dan efisien adalah membagi minimal 3 wilayah atau per regional selayaknya Liga Nusantara,misalnya ni, Regional Jawa-Sumatera, Kalimantan, Sulawesi+Maluku Utara, Papua+Maluku, dan Bali+nusa jika pesertanya banyak. Biar banyak juga pemainnya di awal kompetisi diperbolehkan menggunakan jasa pemain asing jika perlu 5 slot.

     Pemopuleran

pixgood.com
Louisa Necib
Pemopuleran bisa dimunculkan dengan memasukan sepak bola dalam kegiatan olah raga siswa seperti Porda/Popda.
Namun pemopuleran yang cukup efektif adalah ketika Liga itu sudah terbentuk. Misalnya dengan hal – hal kecil seperti pamphlet dan Baliho yang berisi pertandingan atau jadwal pertandingan, hingga Icon/Ambassador. Icon tersebut merupakan pemain yang tidak hanya mahir bermain bola tapi juga wajah cakep, terutama pemain asing, setelah saya berkaca pada Proliga. Jika perlu ada Marquee Player, yang asing, yang jago, yang cakep.

Untuk masalah banyak pemain asing apa engga memajukan produk local ni? Jawabnya, ini beda sama sepak bola bung! Untuk “perkenalan” banyaknya pemain asing bisa jadi magnet juga kebijakan naturalisasi masih bisa lah ditoleransi atas dasar maklum. Baru nanti jika peminat sudah ramai. Batasin naturalisasi.


http://m.tribunnews.com/superball/2015/04/21/pesona-kiper-cantik-timnas-tiongkok-akhirnya-ada-alasan-nonton-piala-dunia-wanita
Zhao Lina 
Semoga bakal ada Maulina Novryliani dan Rani Mulyasari Baru atau bahkan sukur - sukur bakal ada Zhao Lina dan Louisa Necib di Indonesia... Semoga...

Jaya Sepak Bola Nasional!!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar